Setiap kali membaca buku baru, saya selalu menuliskan minimal dua versi review buku tersebut. Yang pertama adalah tulisan review suka-suka saya dan kedua adalah tulisan review ala media.
Novel Sebiru Safir Madagascar misalnya. Saya sudah menuliskan review suka-suka saya untuk novel tersebut, lalu menuliskan lagi tulisan review versi media. Jadi, untuk satu buku saya bisa punya lebih dari satu tulisan.
Lebih menyenangkan yang mana? Lebih menyenangkan menulis suka-suka laaaah, hahaha. Berikut ini adalah review Sebiru Safir Madagaskar versi media. Saya kirim ke surat kabar Tribun Kaltim (Kalimantan Timur), sebuah surat kabar yang sekelas dengan Serambi Indonesia kalau di Aceh.
Selamat membaca.
Saya selalu suka menyukai berpetualang––melalui buku––di negara-negara
ketiga––negara-negara yang jika disebut namanya, mungkin sebagian orang, sambil mengernyit,
akan bertanya: di manakah itu?; atau
yang lebih ekstrim jadi, itu negara?
Seperti saya, haha.
Pulang,
begitu judul novel Tere Liye yang terbit perdana pada September 2015 lalu. Judul
yang paling banyak dipakai sebagai judul oleh penulis fiksi Indonesia–baik
cerpen maupun novel. Tapi tentu saja, Pulang-nya
you know who yang paling tenar dan
abadi di Indonesia. Cmiiw.
Well, firstly, I’d like to say that it’s not such
of an objective book’s review as I did before. It’s just my impressions :p
Negeri 5 Menara (N5M) adalah salah satu buku booming Indonesia ke sekian yang
aku baca sekarang, bukan pada masa sedang heboh-hebohnya, bukan juga ketika
bukunya difilmkan. Sama seperti Perahu Kertas. Padahal bukunya sudah lama
sekali kubeli, flmnya juga belum kutonton.
The Coffee Memory adalah salah satu novel dengan tagline ‘Love Flavour’
besutan penerbit Bentang. Di antara
beberapa novel ‘Love Flavour’ yang sudah terbit, saya memilih membaca The Coffee Memory, karangan
penulis produktif Riawani Elyta. Tentu ada alasan tersendiri buat saya atas
kecenderungan ini, karena saya menyukai gaya menulis Riawani Elyta. Elyta,
begitu nama panggilannya, termasuk lihai memainkan ide yang mungkin dianggap biasa untuk
novel bergenre roman, menggarapnya dengan kekuatan diksi dan jalinan kata yang membuat pembaca tidak ingin
melewatkan satu kalimatpun.
Judul Buku : Perempuan Terluka
Penulis :
Qaishra Shahraz
Penerbit : Mizan
Tahun Terbit : 2004
Tebal :
412 halaman






